Sabtu, 10 Oktober 2009

RIKUDOU SENNIN - JUUBI



Perselisihan selalu terjadi di antara umat manusia. Perang demi perang terjadi akibat dari perselisihan tersebut. Keinginan untuk mempertahankan pendapat, kebenaran yang diusung, tentu saja kebenaran menurut tiap individu, yang tentu saja berbeda, tidak jarang menimbulkan konflik yang berujung pada kebencian.

Di era Rikudo Sennin, seorang sakti mandraguna hidup, terdapat seekor monster yang sangat kuat. Monster tersebut memiliki 10 ekor, yang selanjutnya disebut Juubi. Juubi melakukan banyak teror terhadap manusia. Monster ini memiliki cakra yang sangat kuat dan hebat. Rikudo disebut-sebut telah melawan monster itu untuk menjaga perdamaian dunia. Dia berhasil mengalahkan Juubi dan menyegelnya ke dalam tubuhnya sendiri.




Waktu terus berjalan dan tiba saatnya Rikudo untuk meninggalkan dunia. Segel Juubi akan terlepas jika Rikudo mati. Rikudo mengetahui hal tersebut dan dengan kekuatannya dia membagi cakra monster tersebut menjadi 9 bagian. Hal tersebut dimaksudkan agar kekuatan Juubi terbagi menjadi bagian yang lebih kecil, sehingga lebih mudah untuk dikontrol oleh generasi berikutnya. Kesembilan bagian dari Juubi tersebut berpencar mencari tubuh baru dan menjadi monster-monster berekor. Rikudo menggunakan jurus Chibaku Tensei untuk menyimpan badan Juubi yang sudah tidak bernyawa ke luar angkasa dan terbentuklah bulan.

Isu tentang peperangan dan keinginan untuk mencapai perdamaian selalu ada. Saat itu dunia belum sepenuhnya berada dalam kedamaian. Rikudo memiliki dua penerus. Rikudo menyimpan harapan yang besar terhadap kedua anaknya itu. Salah satu dari mereka akan dijadikan sebagai pengganti dirinya dalam mewujudkan kedamaian. Yang tertua, dianugerahi mata yang sama dengan ayahnya dan memiliki cakra serta kekuatan spiritual. Sedangkan adiknya memiliki tubuh seperti ayahnya dan energi kehidupan serta energi fisik. Kedua saudara ini sangat berbeda dalam hal fisik dan pemikiran. Sang kakak percaya bahwa kedamaian hanya akan dapat diraih melalui kekuatan, sementara adiknya percaya bahwa cinta kasih merupakan kunci kedamaian.

Rikudo Sennin lebih menyukai ide dari anak bungsunya dan akhirnya menjadikannya sebagai penerus. Hal tersebut menyulut api kebencian di hati kakaknya. Menurut sang kakak, dia sendirilah yang pantas menjadi penerus ayahnya, karena statusnya sebagai anak pertama, putra mahkota. Perselisihan terjadi dan terus terjadi hingga generasi selanjutnya dari kedua putra Rikudo Sennin.